Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

30 Puisi Perihal Alam Keindahan Pegunungan Pedesaan Dan Lingkungan

Puisi tentang alam yaitu puisi yang bercerita wacana banyak sekali fenomena di alam, Seperti pegunungan, pedesaan, pantai, bahari, atau wacana alam yang rusak.

Puisi alam lazimnya berisikan berapa bait. Ada puisi yang hanya berisikan 2 bait, tiga bait, empat empat bait dan lima bait.

Keindahan alam senantiasa menjadi daya tarik bagi insan. Keindahan alam mampu dilihat dari deburan ombak di Pantai, hamparan bahari yang indah, maupun hamparan sawah di pedesaan.

Tetapi alam yang rusak bisa menjadi penyebab bala bencana. Seperti peristiwa banjir ataupun kekeringan.




    1. Puisi Tentang Alam Pegunungan

    Tinggi Menjulang Tinggi menjulang dirimu
    Bagaimana bentuk Awan Kelabu
    Dari jauh bagai mengambang
    Indah terpesona semua Insan.

    Gunung yang sangat tinggi
    Ingin sekali aku mendaki
    Pasti kakiku lelah
    Jika tidak terlatih.


    Hamparan Di Tepi Gunung

    Angin datang dan berdesir
    Di pegunungan yang menyisir
    Diantara hamparan sawah
    Tempat petani mencari nafkah.

    Alangkah indah hamparan sawah
    berkelak-kelok amatlah megah
    ingin badanku rebah
    Menikmati segarnya udara.

    2. Puisi Tentang Alam Yang Rusak

    Alam yang indah bisa saja rusak alasannya adalah ulah manusia. Seperti hutan yang lebar sekarang menjadi gundul. Sehingga akan gampang terkena banjir. Baca berikutnya di puisi banjir.

    Sungaiku Kenapa Kotor?

    Air sungai terus mengalir
    Sangat jernih dan bersih
    Ikan-ikan pun berenang
    Bermain-main dengan bahagia.

    Kenapa Sungai kotor sekarang
    Banyak sampah di sana sini
    Airnya pun menjadi keruh
    Aromanya menjadi anyir.

    Hutanku Penjaga Desaku

    Setiap ekspresi dominan hujan datang
    Ini hatiku berdebar-debar
    takut ada datang tragedi
    Ke desa ku walau sebentar.

    Kini banjir bandang menerjang
    Karena sudah hilang hutan
    Pohon-pohon banyak ditebang
    Hujan mencurah banjir pun tiba.


    3. Puisi Tentang Alam 4 Bait


    5. Puisi Tentang Alam Pedesaan
    6. Puisi Alam Untuk Anak SD Belajar membuat puisi telah kita mulai saat duduk di kelas sekolah dasar. Biasanya membuat puisi dengan tema alam, keluarga, ataupun lainnya.

    Misalnya puisi ihwal kunang-kunang atau puisi wacana kupu-kupu. Karena belum dewasa akan senang bermain di alam bebas.

    Puisi  Kupu-Kupu

    Aku lihat kupu-kupu
    Bermain di taman bunga
    Sayapnya berwarna biru
    Dari sini melayang kesana.

    Kupu-kupu tampakriang
    Bermain-main dengan kembang
    Kesana kemari bagai penari
    Selalu begitu di pagi hari.


    Kunang-Kunang

    Wahai kunang-kunang
    Dari mana engkau tiba
    Tubuhmu menenteng Lampu
    Menjadikan Malam begitu jelas.

    Kunang-kunang yang ku sayang
    Ajari diriku Bagaimana terbang
    Supaya aku bisa ikut denganmu
    Menjelajah Kesunyian malam.


    7. Puisi Alam Indonesia


    Indonesia ialah negara yang kaya raya dan juga indah. Indonesia mempunyai banyak kekayaan dan keindahan. Mulai dari pantainya, gunung, sawah, dan lautannya.

    Indonesiaku Indah

    Indonesiaku amatlah indah
    Pantai Gunung serta lembah
    Terhampar luas antero Nusantara
    Anugerah dari Tuhan Yang Esa.

    Gunung-gunung tinggi menjulang
    Sawah-sawah luas terhampar
    Pantai-pantai begitu indah
    Lautan membentang tak telah telah.

    Indonesiaku amatlah indah
    Bagaikan Zamrud Khatulistiwa
    Kita semua harus mempertahankan
    Agar Lestari alam kita.


    Hutan Pinus Gunung

    Di hutan pinus di Desaku
    Ada udara yang begitu segar
    Membuat diriku senantiasa rindu
    Rindu di dada amat bergetar.

    Hutan pinus melebur rindu
    yang memanggil jiwaku
    doaku moga lestari
    alam indah nan berseri.


    8. Puisi Tentang Air Terjun

    Deras mengalir air jernih
    jatuh membuncah di bawah
    suaramu merdu nyanyian alam
    pecah sunyi sarat kemerduan.

    Bergeranjas jatuh
    Dengan cara yang paling Anggun
    Suaramu menenangkan hati
    Tarianmu menghias indah.



    Sunyi

    Kau berada ditengah kesepian
    Jauh dari pemukiman
    Selalu jadi Kerinduan
    Dari jiwa setiap Insan

    Kau mengalir dari jauh
    Di kawasan itu engkau jatuh
    Dengan suara yang bergemuruh
    Di kolam kecil engkau berlabuh.

    9. Indahnya Alam Lingkungan

    Kita bisa membuat puisi wacana alam sekitar kita. Tidak harus perihal gunung, pantai, sungai, ataupun lautan. Tetapi kita mampu juga menuliskan puisi tentang alam sekitar kita, mirip pohon, kupu-kupu, lapangan kawasan bermain, dan sejenisnya. Berikut ini yaitu teladan perihal keindahan alam sekitar.

    Pohon Tempat Kami

    Di bawah rindang daun-daun
    Diantara dahan-dahan
    Di sana lah kami bermain
    Bergembira bareng sahabat.

    Pohon bangun sudah usang
    Sebelum kami lahir ke dunia
    Menemani kita dan cerita
    Kenangan kami kelak cukup umur.


    Menyusur Sungai

    Air mengalir padamu
    Dari hulu hingga Hilir
    Jauh sekali engkau mengalir.

    Engkau memberi kehidupan
    Untuk mengairi persawahan
    Menyuburkan aneka macam flora
    Sebagai anugerah Tuhan.


    10. Keindahan Alam

    Pagi Pecah

    Ketika pagi pecah
    Langit pun mulai memerah
    Pantai Cahaya Sang Fajar
    Pagi hari yang bergetar

    perlahan-lahan Bangkitlah Surya
    Menerangi Alam Raya
    Menyemburatkan cahaya
    Memberi hangat pada manusia insan.


    Nyanyian Semesta

    Dan angin pun bersemilir
    Menyentuh ujung ilalang
    Dan iapun menggeletar
    Menjatuhkan bunga putihnya.

    Padang ilalang di waktu senja
    Membawakan suatu aroma
    Ketika ditimpa cahaya senja
    Terlihat betapa indahnya.


    Alam Ciptaan Tuhan

    Berkelipan bintang di langit
    Menghiasi gelap malam
    Memagari sang Rembulan
    bintang kecil amat alit.

    Alangkah indah ciptaan Tuhan
    Menjadi dekorasi bagi Insan
    Agar bersujud terhadap-Nya
    Mengagungkan seagung-agung-Nya.


    11. Kasih Sayang Kepada Alam

    Telah diberikan keindahan
    Telah diberikan fasilitas
    Untuk kita dari alam
    Sesama makhluk ciptaan Tuhan.

    Jangan kita menyakiti
    Biarkan alam tumbuh berseri
    Kepada makhluk Marilah sayang
    Agar hidup selalu Harmoni.


    Kasih Sayang Sesama Manusia

    Apa gunanya iri dengki
    Hanya menciptakan sakit hati
    Kasih sayang itu lebih utama
    Bermanfaat di alam sana.

    Kasih sayang terhadap sesama
    Agar hidup tentram senang
    Tolong menolong menjadi utama
    Jiwa pun akan merasa Sentosa.


    12. Puisi Fenomena Alam


    Fenomena alam umumnya terjadi di sekitar kita. Contohnya yaitu gunung meletus, Gempa bumi, atau banjir yang melanda.

    Merapi Meletus

    Suara menggelegar
    Mengeluarkan awan putih
    Cuaca menjadi panas
    Saat engkau berganti ganas.

    Gunung yang indah sekarang mengamuk
    Menakutkan hati insan
    Keluar lahar
    Hawa panas
    Gunung tenang menjadi berangasan.


    Banjir Tak Pernah Usai

    Di kotaku ini
    Ada dongeng yang tak pernah henti
    Setiap kali isu terkini penghujan
    Rumah kami ikut terendam.

    Hutan-hutan sudah habis
    Pertumbuhan makin terkikis
    Air hujan tak mampu disimpan
    Hanya mengalir dan menenggelamkan.

    Mari kita melestarikan
    Tanam lagi pepohonan
    Agar terhindar dari bencana
    Ketika trend penghujan tiba.

    .
    .
    Gejala alam menandakan adanya sesuatu yang berafiliasi dengan insan. Kadang-kadang insan tidak menyadari bahwa peristiwa tersebut alasannya adalah ulah manusia itu sendiri. Ada orang yang tidak pernah mencampakkan sampah kecuali di sungai. Ada pula yang mengambil keuntungan dari hutan. Oleh sebab itu Mari kita jaga kelestarian dan keindahan alami.

    13. Bencana Gempa

    Bumi pun bergetar
    Rumah-rumah berderak
    Manusia Limbung
    Saat bencana gempa
    Datang dengan tiba-datang.

    Jika gempa sudah melanda
    Rumah mewah bagaikan kertas
    Runtuh semua saat itu juga
    Jangan tanah rumahpun rata.


    Gempa Bumi

    Jika terjadi gempa bumi
    Manusia cemas akhirnya
    Yang terpikir keselamatan diri
    Jangan sampai beliau celaka.

    Gempa bumi akan terjadi
    Semakin banyak di kiamat
    Karena dosa-dosa Insani
    Yang tak taat terhadap Tuhan.


    14. Alam Hijau

    Menikmati Semilir

    Duduk saya di Gubuk Tua
    Diantara bentangan sawah
    Menghijau beliau warnai desa
    Perasaanku begitu Sentosa

    Alam Hijau di pedesaan
    Udara segar yang kita rasakan
    Bersih jauh dari abu debu
    Harus disyukuri sepanjang waktu.

    Aku duduk di Gubuk Tua
    Memandang hijaunya sawah
    Menikmati angin semilir
    Memandang sungai kecil yang mengalir.

    Hijaunya Alamku

    Alangkah indahnya alam
    Menghijau luas membentang
    Di sanalah ada kehidupan
    Dari dulu sampai kini.

    Alamku hijau dan Permai
    Begitu indah dipandang mata
    Penduduknya merasa hening
    Menikmati anugerah dari-Nya.


    15. Kerusakan Alam


    Jeritan Alam

    Hutan-hutanku kamu babat
    Suaku kamu penuhi dengan polusi
    Udaraku kamu penuhi dengan polusi.

    Mengapa Wahai Manusia
    Engkau rusak diriku ini
    Padahal segalanya sudah kuberikan
    Dari hasil kekayaan ini.

    Jagalah Alam
    Dari lautanku,
    Engkau mengambil ikan.
    Dari sawah-sawah ku
    Engkau mengambil padi.

    Dari perut perutku,
    Kau ambil emas pasir dan tembaga
    Dari bersih udaraku
    Engkau dengan nafas.


    16. Pantun Jelajah Alam


    Susur Sungai

    Kususuri dengan kakiku
    Sungai kecil yang berpasir
    Dari ketinggian bukit
    Hingga turun ke tanah lembah.

    Betapa senang didalam jiwa
    menjelajahi alam ciptaan-Nya
    Terasa besar Keagungan Tuhan
    Sedangkan aku seorang hamba.

    Rindu Hutan

    Aku rindukan suasana hutan
    Dengan aromanya yang tak dilupa
    Suara terdengar dari binatang

    Memasuki hutan
    Melalui Jalan Setapak
    Ditemani burung-burung
    Serta nyanyian margasatwa.


    17. Rindu Alam

    Aku merindukan lagi
    menjelajahi Alam Hijau
    Di situasi desa
    pada sawah yang berlumpur.

    Lelah aku melihat tembok
    Ingin ku lepaskan persepsi
    Benda langit yang biru
    Ditemani awan Gemawan.


    Hujan Di Balik Jendela

    Setiap kali hujan gerimis
    Terdengar merdu suaranya
    Menimpa atap rumah
    Ketika itu di waktu senja.

    Aku duduk di balik jendela
    Menatap gerimis turun ke bumi
    Di dalam hati ada kehangatan
    Sebab gerimis adalah anugerah Tuhan.

    Kutatap sendu pada awan
    Yang warnanya mulai kelabu
    Mungkin saja hujan selesai
    Meninggalkan udara higienis.

    18. Kutatap Pelangi

    Jika gerimis turun berderai
    Di bawah cahaya matahari
    Mata hatiku pun berdenyai
    Melihat warna-warni sang Pelangi.

    Ia bagaikan mahkota
    Di bentangan langit begitu indah
    Warnanya sungguh sangat tertata
    Menghilangkan segala bingung.


    19. Kicau Burung Pagi Hari


    Kicau burung di pagi hari
    Amat riang mereka bernyanyi
    Bermain-main di pucuk Cempaka
    Menemani datangnya Surya.

    Burung yang jelita
    Kulihat engkau begitu senang
    Dalam hidup sarat Kemesraan
    Engkau terbang bersama teman-sahabat.


    20. Mendung Hitam

    Sebelum turun hujan
    Ada menunjukan dari alam
    Awan putih sudah berubah
    Warnanya kini menjadi hitam.

    Mendung hitam menggelayuti
    Di pucuk langit di atas bumi
    Hujan turun selaku anugerah
    Menghidupkan flora Bumi.


    21. Sungai

    Jika aku minta di sungai
    Kaki Bukit di bersahabat gunung
    Hatiku eksklusif terasa hening
    Pikiran pun gampang merenung.

    Dari ketinggian
    Air mengalir dengan Anggun
    Mengirim cinta ke sawah-sawah
    Menyenangkan hati para petani.

    Sungai Ini begitu masbodoh
    Airnya jernih begitu bening
    Untuk diminum oleh insan
    Dijadikan makanan untuk yang lainnya.


    23. Alam Pegunungan

    Di gunung yang tinggi
    Jalannya berkelok-kelok
    Jauh sekali.

    Turun dan mendaki
    Jalan berkelok
    Alam yang sunyi.


    Kabut

    Kabut turun di pagi hari
    Bersama embun embun
    Menyambut cahaya matahari
    Menerpa daun-daun.

    Kabut tipis melayah-layah
    Di antara hutan pinus.
    Kicau burung terdengar indah
    Insan terpana bagai terbius.

    24. Alam Negeriku

    Pohon-pohon telah tumbuh
    Dari zaman dahulu
    Sebelum lahir kakekku

    Alam Negeriku begitu kaya
    Gunung sungai lautan dan lembah
    Terbentang begitu saja amat indah.


    25. Awan-Awan

    Bertebaran dia di angkasa
    Menghiasi langit yang biru
    Kadang putih kadang kelabu
    Memayungi Bumi Indahku.

    Awan Gemawan sangat menarik
    di atas sana senantiasa mengambang
    Mengikuti angin kemana
    Ke selatan ataupun ke Utara.

    Kadang ia terlihat tipis
    Di waktu senja yang memerah
    Kadang Putih dikala gerimis
    Atau dikala cuaca cerah.


    26. Purnama

    Bila datang waktu Purnama
    Kami bermandikan dengan cahaya
    Berlari-lari di halaman rumah
    Menikmati Purnama Raya.

    Di depan rumah itu
    duduk pula Ayah ibuku
    Bercerita mereka berdua
    Sambil memperhatikan kami semua.

    Saat Purnama datang
    hati kami selalu ceria
    Di tepi sungai rumah kami
    Tempat terbaik memandang Purnama.


    Angin Berkah

    Apabila pagi pecah
    Dari kapulasan tidurnya
    Bagaikan seorang putri
    Disambut kabut serta embun.

    Pagi ini pagi yang berkah
    Ketika angin semilir
    Dari lautan menuju lembah
    Mengembara ke mana saja.


    27. Embun Pagi

    Embun sudah turun
    Semenjak malam tadi.
    Menjadi kabut misteri
    Tapi menyejukan hari.

    Embun bening berseri
    Kepada daun menghampiri
    Padang rumput rumput di kaki
    Hilang kalau datang Mentari.

    28. Ketemukan Embun Pagi

    Hanya embun pagi
    Yang aku jumpai
    Sebelum datang Mentari
    Menggantung beliau di pucuk daun.

    Embun cuma di malam hari
    Untuk menyejukkan alam ini
    Agar Insan beristirahat
    Dalam tidur yang lelap.


    29. Setetes Embun

    Walaupun tanah kering kerontang
    Embun pagi tiba menyapa
    Menetes jatuh ke atas bumi
    Mengusir sedih dan nestapa.

    Embun bekerja di malam hari
    Agar segar tanaman
    Walau tak ada orang memperhatikan
    Setiap malam dia akan datang.

    30. Segar

    Telah ku jumpai daun daunku,
    Yang siang tadi hampir layu
    Kini dia segar kembali
    Sebab disentuh embun pagi.

    Bunga bunga ini mekar
    Daun-daun membuka lebar
    Saat tersentuh Mentari
    Embun hilang dan pergi.


    31. Puisi Ombak Laut Biru

    49. Puisi Alam Pantai Yang Indah Laut secara tiba-tiba ramai
    Saat manusia pergi ke pantai
    Bermain-main dengan riang
    Dibawah Mentari bercahaya terang.

    Laut sudah mengirimkan
    Ombaknya yang bergunung-gunung
    Hingga pecah di tepi pantai
    Memberi makna beribu-ribu.

    50. Pantai di pagi hari

    Kala Mentari terbit
    Di ufuk timur yang jauh
    Kulihat kabut kabut lembut
    Di antara ombak berdebur.

    Burung-burung bernyanyi riang
    Menyambut Mentari di ujung sana
    Anginpun mulai bertiup kencang
    Menandakan datangnya kehidupan.

    Ombak mulai berkejar-kejaran
    Berlomba menuju Karang
    Kadang menyapu bahtera di tepi
    Membuatnya bergoyang-goyang.

    51. Oh Laut

    Oh bahari
    Deburmu aku rindukan
    Gelombang aku nantikan
    Gemuruhmu aku puisikan.

    Oh bahari
    Anginmu menenangkan
    Birumu melapangkan
    Pasirmu membahagiakan.

    Oh Laut
    Aku rindu kepadamu
    Rindu itu membawaku
    pada kerinduan pada Pencipta-Mu.

    Posting Komentar untuk "30 Puisi Perihal Alam Keindahan Pegunungan Pedesaan Dan Lingkungan"